Selasa, 26 Februari 2013
Diklat Pelayanan Publik: Melatih Para Pelatih

Animo peserta terhadap kualitas pelayanan publik makin meningkat, hal ini dibuktikan dengan menguatnya jumlah peserta dari diklat pelayanan publik. Setelah sehari sebelumnya juga telah dibuka Diklat yang sama untuk Angkatan I, hari ini (26/2) Kepala Pusat Diklat Spimnas Bidang Teknik Manajemen dan kebijakan Pembangunan (TMKP) LAN Drs. H. Sigit Purwanto, MM membuka TOT (Training of Trainer) Diklat Pelayanan Publik Angkatan II tahun 2013 di Kampus PPLPN (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri) LAN Pejompongan.

TOT Diklat Pelayanan Publik ini diikuti oleh 40 orang pelatih/widyaiswara dari berbagai instansi baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan akan berlangsung selama 5 (lima) hari kerja terhitung mulai tanggal 26 Februari sampai dengan 2 Maret 2013.

Menurut Sigit Purwanto, TOT Diklat Pelayanan Publik ini perlu dilakukan mengingat sampai sejauh ini kualitas pelayanan publik dalam beberapa hal masih dirasakan belum berjalan seperti diharapkan atau masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Untuk itu melalui diklat ini diharapkan para peserta yang berprofesi sebagai widyaiswara atau tenaga pengajar di instansi pemerintah akan mampu mendorong terwujudnya pelayanan publik yang prima sesuai tuntutan masyarakat melalui pembenahan kualitas kinerja aparatur.

Untuk memenuhi harapan ini maka selama mengikuti TOT Diklat Pelayanan Publik peserta akan diberikan materi yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan publik diantaranya adalah:
  1. Konsep dan Kebijakan Pelayanan Publik
  2. Pola Penyelenggaraan Pelayanan Publik
  3. Standar Pelayanan Publik
  4. Pengelolaan Pengaduan Masyarakat
  5. Indeks Kepusan Masyarakat
  6. Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Transformasi pengetahuan tersebut akan dilakukan dengan metode pembalajaran orang dewasa antara lain ceramah yang dikombinasikan dengan tanya jawab, diskusi dan latihan; sharing experience diantara peserta dan fasilitator yang direalisasikan dalam metode antara lain demonstrasi, simulasi dan bermain peran; serta micro-Teaching.

Melalui metode pembelajaran tersebut diharapkan peserta akan mampu menguasai semua materi yang diberikan dan pada akhirnya mampu menjelaskan konsep dan kebijakan pelayanan publik, pola penyelenggaraan pelayanan publik, mampu menyusun standar pelayanan publik, menyusun indeks kepuasan masyarakat dan mampu menjelaskan proses pengelolaan pangaduan masyarakat serta mampu menjelaskan strategi peningkatan kualitas pelayanan publik. (Asety)